“Can I have one ticket for the Raid please?” pintaku pada cewe bule penjaga loket di TTP.

“Sorry, the Riot?” tanyanya kebingungan sambil menatap layar komputer.

Haahh? Apa bahasa Inggrisku kurang pas ya? Kok dia salah tangkap kata-kataku?

“No, It’s the Raid,” celutuk teman sebelahnya.

“Oh yes, it’s there,” katanya sambil tersenyum malu.

“I’d heard it’s a good movie, does it have the English subtitle?” tanyanya kepada kawannya yang nyelutuk tadi.

Alamak, cinema 8 bakalan terisi sedikit orang saja.

Aku tidak heran dengan sedikitnya orang yang menonton filem ini, karena memang tidak ada iklan bombastis yang ditempel di bus-bus, tempat-tempat perhentian bus, ataupun iklan di TV, dibandingkan filem-filem Hollywood lainnya. Filem-filem Hollywood, walaupun jelek, tetap aja ada yang nonton karena iklannya yang bertebaran di mana-mana.

Sambil menunggu kedua temanku datang, aku menatap layar TV di atas locket yang menunjukkan jadwal pemutaran dan jumlah penonton. Hmmm, dari pertama aku beli beli tiket, jumlah kursi yang tersisa tidak beranjak dari dari 193. Ada berapa sih jumlah kursi di dalam cinema 8?

Betul juga, ketika kami masuk ke cinema, yang kami dapati adalah kursi-kursi kosong. Betulkah akan diputar filem the Raid di sini? Jangan-jangan akan dibatalkan karena jumlah penonton yang tidak memenuhi quota🙂

Tapi tak lama kemudian, masuklah beberapa orang bulek yang ikutan tertawa melihat kekosongan cinema. Lalu disusul dengan beberapa orang Afrika. Yah paling tidak ada ada sekitar 12 orang lah yang mengisi cinema 8.

Setelah menonton filem tersebut, satu hal yang bisa saya katakan adalah “It’s worth of money”. Dari awal sampai akhir adalah adegan “martial art” yang membuat anda terpaku selama 100 menit. Lupakan alur cerita sederhana dan kekurangan detail di sana-sani. Semuanya bisa termaafkan setelah melihat alur filem yang begitu cepat dalam mempertontonkan kehandalan silat sang pemeran utama, Iko Uwais. Menurut seorang teman yang menonton review di TV SBS, Jacky Chan berencana mengajak Iko Uwais dalam filem Mortal Combat berikutnya, setelah melihat filem the Raid. Kalau Jacky Chan yang biangnya “martial Art” Asia sampai kagum begitu, memang top lah filem ini.

Filem bertambah seru karena “score” yang dibuat oleh Mike Sinodha membuatnya semakin berdenyut. Dengan musik “score” yang berdentum sepanjang filem ditambah dengan adegan “martial art” yang mengagumkan membuat filem Indonesia ini layak diberikan bintang 4-5.

So don’t miss out this filem for those who like martial-art movies. Dan jangan nonton yang versi bajakan ya?