“Ayah kenapa kita harus puasa?” tanya anak laki-lakiku yang berumur 8 tahun ketika kami baru saja menyelesaikan makan sahur pada hari pertama puasa ini.

Aku terhenyak sedikit dengan pertanyaan tersebut lalu mencoba menjawab dengan jawaban yang menyangkut aqidah.

“Karena Allah sudah menyuruh kita puasa, ya harus kita turuti,” jawabku lagi.

Kelihatan mukanya masih belum puas.

Lalu aku melanjutkan, “Samalah dengan perintah untuk sholat. Kalau disuruh sholat sama Allah, ya tidak boleh protes. Langsung aja dikerjakan. Kitakan adalah hamba Allah, jadi harus rela kalau disuruh-suruh.”

“Mengerti nggak apa itu hamba Allah?”

Dengan serentak kedua anak kembarku menggeleng kepala. Dasar anak-anak yang terlalu lama tinggal di luar negeri. banyak kata-kata Indonesia yang tidak dimengerti oleh mereka.

“Hamba itu maksudnya slave,” jelasku lagi.

“Ooohhh…ngerti-ngerti,” serentak mereka menjawab.

“Tapi ayah, kenapa Allah menyuruh kita untuk puasa?” anak lelakiku ternyata belum puas dengan jawaban tadi.

Aku senang dengan pertanyaan anakku tersebut. Walaupun membuat kita repot untuk menjawab, mereka ada keinginan untuk bertanya mengenai agamanya. Ini kesempatan yang bagus untuk menanamkan pemahaman agama kepada  mereka.

“Oh…bulan Ramadhan ini bulan bonus. Ngerti kan apa itu bonus?” tanyaku.

Mereka menganggukkan kepala.

“Selama bulan puasa ini kalau kita banyak melakukan ibadah seperti sholat, mengaji, berbuat baik kepada orang lain, dan bersedeqah kepada fakir miskin, maka pahalanya akan berlipat ganda. Juga dosa-dosa kita bakalan dihapus kalau rajin bertaubat. Kalau bulan-bulan biasa kita tidak dapat bonus besar seperti itu. Selain itu, hampir setahun perut kita diisi dengan makanan terus menerus. Nah sekarang ini saatnya membersihkan perut dari sisa-sisa makanan yang berlebihan. Asalkan tidak balas dendam ketika buka puasa,” hampir habis napasku gara-gara penjelasan yang panjang lebar.

“Apa ada orang miskin di Australia ini?” tanya mereka lagi.

“Ya kita kirim ke Indonesia saja,” jawabku lagi.

“Bagaimana cara kirimnya?” mereka mendesak lagi.

“Melalui Bank lah,” jawabku lagi.

“Loh, bagaimana mereka tahu itu uang dari kita?” tanya anak perempuanku.

“Masing-masingkan ada nomor rekening Bank, sudah cukup…sudah cukup. Udah hampir shubuh tuh,” kalau diikutin terus bisa tidak habis-habis pertanyaannya.

Yang penting mereka sudah mengerti kenapa Allah menyuruh mereka untuk puasa.

Fiuuhhh…