Sudah beberapa minggu ini, saya sholat Jum’at di surau Adelaide Uni. Soalnya itu yang paling dekat dan dapat ditempuh dengan jalan kaki. 15 menit pergi, 15 menit pulang.

Saya lihat yang memberikan khutbah Jum’at masih muda-muda dan isinya menarik. Tidak membosankan. Seorang brother dari Pakistan (agaknya) yang sering membawakan khutbah Jum’at disitu, mengangkat topik betapa pentingnya sholat di sisi seorang Muslim. Dia menyitir sebuah hadist yang berbunyi bahwa yang membedakan seseorang itu masih Islam atau tidak adalah berdasarkan sholatnya. Tidak sholat berarti kafir.

Sanagt tegas kalau sekedar membaca satu hadist itu. Namun menurut ulama-ulama, seseorang dianggap terkeluar dari Islam, kalau dia meninggalkan sholat dengan sengaja karena tidak percaya dengan perintah sholat. Kalau masih percaya dengan perintah sholat, tapi malas melakukannya, maka dia dianggap fasiq. Saya pikir, kasus kedualah yang banyak terjadi di masyarakat.

Anyway, khutbah Jum’atnya cukup bagus, walaupun agak kepanjangan hingga 30 menit. Namun saya perhatikan, di Jum’atan berikutnya, dia memendekkan waktu khutbah hingga 15 menit. Mungkin ada yang protes🙂

Khutbah Jum’at menarik lainnya ketika dibawakan oleh seorang brother dari Malaysia. Saya menerka dari Malaysia, karena cara pengucapan “kami” (us) yang unik yaitu dibaca “es” seperti pembacaan “e” di kata “belang”. Selain itu saya sangat familiar dengan logat bahasa Inggris orang Melayu.

Nah beliau ini membawakan topik mengenai pentingnya menuntut ilmu bagi Muslim. Salah satu poinnya adalah ilmu itu terbagi dua, ada ilmu yang bisa mendekatkan diri kepada penciptanya, ada juga ilmu yang malah menjauhkan dirinya dari agama. Tidak heran, ada orang yang makin berilmu malah makin tidak percaya Tuhan. Contohnya seperti seorang ilmuwan terkemuka dunia yang duduk di kursi roda dan hanya bisa bicara melalui leher. Katanya, surga itu tidak ada sama sekali. Saya agak lupa namanya. Steven Hawkins kah?

Khutbah cukup singkat dan dibawakan dengan bahasa Inggris yang cukup lancar. Kelihatan bahwa brother tersebut, mempersiapkan diri betul-betul sebelum hari “H”. Kalau saya beri penilaian, brother Malaysia ini lebih baik penyampaiannya dari brother Pakistan tersebut.

Yang betul-betul mengecewakan adalah khutbah Jum’at minggu kemarin. Saya yakin khatibnya dari Malaysia juga, berdasarkan logat bahasa Inggrisnya dan cara mengucapkan “us” sekali lagi🙂 Menurut saya brother tersebut kurang persiapan, mungkin karena ditunjuk secara mendadak. Ini dibuktikan dengan cara membaca khutbah seperti orang lemas saja, datar dan membosankan. Bahkan ketika membaca teks khutbahpun sering tersendat-sendat. Yang tersendat-sendat ini termasuk do’a dalam bahasa Arab sebagai penutup khutbah.

Topik khutbahpun saya sudah lupa, karena sangat biasa dan dibawa dengan penyampaian yang tidak menarik sama sekali. Walau ada survey mengenai kulitas khutbah Jum’at hari itu, saya kasih jempol terbalik.

Namun ada satu hal yang menurut saya kelihatan seperti basa-basi, tanpa tahu apa tujuan sebenarnya adalah azan dua kali sebelum Jum’at. Bagaimana tidak kelihatan basi-basi kalau dilakukan seperti ini: azan pertama, kemudian khatib naik ke mimbar, terus azan kedua. Transisi itu terjadi kurang dari satu menit.

Saya tidak menentang azan dua kali. Karena ini ada landasan dalam agama juga. Walaupun azan dua kali ini tidak pernah dilakukan di zaman Rasulullah SAW, Abu Bakar ra dan Umar ra, namun di zaman Utsman ra, azan lebih dari satu kali ini mulai dilakukan, karena jumlah penduduk yang mulai banyak.

Dari As-Saib bin Yazid ra berkata, “Dulu panggilan azan hari Jumat awalnya pada saat imam duduk di atas mimbar, (yaitu) masa Rasulullah SAW, Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. Ketika masuk masa Utsman dan manusia bertambah banyak, ditambahkan azan yang ketiga di atas Zaura. Tidak ada di zaman nabi SAW muazzdin selain satu orang. (HR Bukhari).

Zaura adalah sebuah tempat di pasar kota Madinah saat itu. Al-Qurthubi mengatakan, Utsman memerintahkan untuk dikumandangkan adzan di sebuah rumah yang disebut Zaura. Saat itu khalifah memandang perlu pemanggilan kepada kaum Muslimin sesaat sebelum shalat atau khutbah Jumat dilaksanakan.

Jadi azan pertama dilakukan agar umat Islam melakukan persiapan dan segera masuk masjid, sebelum khatib naik mimbar, dan satu kali lagi saat khatib sudah di mimbar. Jadi azan dua kali jelas ada manfaatnya.

Namun saya melihat azan dua kali di suarau Adelaide Uni., kurang begitu bermanfaat dari segi kepraktisannya. Kecuali mereka mengumandangkan azan pertama menggunakan pengeras suara, sehingga kaum Mulimin yang berada di Adelaide Uni., Rundle Mall, dan sekitarnya bisa bersegara pergi ke surau. Sudah jelas ini tidak bisa dilakukan, karena bakalan diprotes oleh komunitas setempat. Karena tidak ada azan yang kedengaran, maka kaum Muslimin pun berpatokan kepada jam mereka untuk pergi ke surau. Jadi menurut saya, azan yang pertama sudah kehilangan fungsinya sama sekali.

Tapi kalau mereka tetap mengadakan azan dua kali karena dianggap mengikuti sunnah, tidak ada masalah sama sekali. Karena perbuatan para sahabatpun, bisa dianggap sunnah juga.