Sekedar Ilustrasi Saja

Hari ini aku kehilangan RM300 dalam sekelip mata. Ceritanya begini. Ketika pulang kantor, aku menabrak mobil orang dari belakang. Sebenarnya dia rem mendadak, cuma kebetulan aku sedang melihat jalan di sebelah kanan karena mau belok kiri.

Nah ketika dia (seorang pemuda Cina berumur 27 tahun) keluar dari mobil Honda City baru, yang saya yakin masih nyicil ke bank selama 10 tahun, saya bertanya baik-baik, “Are you ok? I’m so sorry”.

Bukannya malah menjawab baik-baik, eh si pemuda Cina ini malah marah-marah sambil menyalahkan saya karena menabrak dari belakan, “You’re wrong. What have you done?”.

Gaya bicaranya memang memandang hina orang Melayu. Saya yang tadinya berusaha untuk tenang, jadi terpancing juga emosinya.  Saya ikut marah juga jadinya.

Dia menantang untuk pergi ke kantor polisi, sambil berkata, “Kamu pasti bayar RM300 sebagai denda”.

“Darimana kamu tahu?” tanya saya lagi.

“Karena hal yang sama pernah terjadi dengan saya,” jawabnya lagi.

“Nah berarti kamu memang tidak betul bawa mobil, sering ngerem mendadak,” desakku lagi.

Dia kelabakan menjawabnya.

Singkat cerita kami ke kantor polisi. Aku sudah yakin bakalan di denda RM300. Tapi entah kenapa aku merasa tenang. Akhirnya memang betul aku didenda RM300.

Si polisi berkata, “Karena kamu bukan warganegara Malaysia, maka kamu harus membayar denda sekarang, kalau tidak kamu bakalan masuk lokap (penjara).”

Wah serem juga kataku dalam hati.

Padahal kalau untuk warganegara Malaysia dikasih kesempatan sebulan untuk bayar denda. Sebenarnya kata polisi, untuk kecelekaan sekecil itu tidak perlu dilaporkan ke kantor polisi, tapi cukup diselesaikan secara damai. Toh nanti pihak asuransi yang bakalan bayar. Seandainya si pemuda Cina itu baik, dia tidak akan menantang seperti itu dan membuat aku salah paham.

Selain kecewa karena kehilangan duit RM300, aku cukup puas juga melihat bumper mobil honda city barunya agak rusak sedikit. Padahal bumper depan mobil Ford Telstar tahun 91-ku tidak rusak apa-apa. Memang mobil-mobil keluaran terbaru, ringkih sekali. Sekali senggol, langsung peyot. Aku tidak beli mobil baru, karena aku merasa aku hanya tinggal sementara di Malaysia. Nanti jualnya susah dan jatuh harga lagi.

Begitulah ceritanya. Kalau orang bilang, orang Australia rasis terhadap imigran terutama orang Islam, aku mendapatkan bahwa di Malaysia, rasis yang terjadi lebih parah. Orang Cina mengganggap rendah orang Melayu dan India. Sebagai balasannya Orang Melayu menganggap rendah orang India dan orang asing yang ada di Malaysia. Ini bukan kata saya. Tapi kata teman-teman yang orang Bangladesh yang pindah ke Australia. Kami sebagai ras melayu merasakan dirasisin juga di tempat kerja yang mayoritas Cina.