“Din, aku lagi cari kelas motivasi yang mampu merubahku supaya rajin sholat,” tanyaku pada Nasrudin pada sore hari ketika baru keluar kuliah.

“Oh ada Faiz, bagus lembaga dakwah ini,” jawabnya dengan antusias.

“Benar nih? Kalau benar di mana tempatnya, aku sudah tidak sabar untuk mengikuti kelasnya,” desakku lagi.

“Ok kalau gitu kamu datang hari ini jam sekian, tempatnya di jalan itu,” jawabnya.

Dengan antusias aku pergi ke tempat tersebut yang merupakan sebuah mesjid di sebuah kampung dekat dengan univeristas tempat aku belajar. Kebanyakan orang yang berada di sana memakai jubah ala India atau Pakistan dengan lilitan serban di kepala mereka. Karena aku berbaju biasa, aku merasa lain sendiri dan sempat berpikir, betulkah aku berada di tempat yang tepat?

Aku duduk di tengah-tengah bersama-sama dengan pemuda-pemuda lain yang kelihatan baru juga karena kelihatan dari sikap mereka yang canggung. Setelah mendengar ceramah singkat, acara dilanjutkan dengan sholat Maghrib. Ceramah dilanjutkan lagi setelah sholat Maghrib. Aku sangat menantikan ceramah untuk memotivasi agar orang rajin sholat dan sekaligus memperbaiki tata cara sholat. Tunggu punya tunggu, topik itu tidak pernah muncul selama ceramah kedua. Yang ada adalah seruan untuk keluar selama 3 hari, 30 hari dan semacamnya. Tentu saja aku tidak berminat dengan seruan tersebut. Boro-boro mau berdakwah kepada orang lain, diri sendiri ini saja belum pas ibadah dan ilmu agamanya.

Tetapi seruan itu betul-betul seperti memaksa dan mendesak dan hampir menguasai waktu ceramah sesi ke dua itu. Mereka menggambarkan orang-orang yang tidak mau keluar adalah orang yang lemah imannya dan bukan muslim yang bagus. Ceramah ini memang diatur untuk menimbulkan rasa bersalah di hati kami.

Kami yang baru-baru ini pada menundukkan muka agar tidak ditunjuk untuk keluar. Usaha kami sia-sia belaka, karena target mereka memang orang-orang yang baru datang. Tampaknya sebelum kami mengiyakan seruan untuk keluar itu dan dilanjutkan menulis nama kami dalam sebuah daftar keluar, hampir dipastikan agak susah bagi kami untuk keluar dari mesjid tersebut. Jadi untuk mencari selamat, aku setuju untuk keluar. Mereka kemudian mencatat namaku dan alamat rumah kosku. Dalam hati aku berkata, aku tidak akan pergi keluar dengan mereka. Pada hari “H” nya, aku tidak akan muncul di markas mereka.

Aku pulang dengan setumpuk kekecewaan, karena aku tidak mendapatkan apa yang kucari. Aku merasa temanku telah berbohong kepadaku, supaya aku mau pergi ke markas mereka. Atau mungkin saja dalam pikiran temanku, itulah cara untuk memperbaiki ibadah sholat sendiri yaitu dengan berdakwah menyuruh orang lain sholat ke mesjid. Tapi tampaknya metode itu tidak sesuai denganku, sehingga aku memutuskan untuk tidak datang kembali ke markas mereka.

Dikejar ke Rumah

Pada hari “H”, sengaja aku tidak ke markas tersebut dan hanya tinggal di rumah saja sambil mencuci baju. Namun hatiku merasa tidak tenang. Jangan-jangan mereka akan menyusulku ke rumah. Kekhawatiran aku terbukti. Ketika aku sedang menjemur pakaian di atas loteng, aku mendengar ucapan assalamu’alaikum di depan pintu rumah.

“Assalamu’alaikum,” terdengar suara seseorang yang ternyata suara si Nasrudin.

“Wa’alaikumsalam,” jawab temanku yang sedang menonton TV.

“Faiz ada? Dia mau pergi keluar dengan kami.”

“Sebentar ya, kayaknya dia sedang mencuci baju.”

“Faiz…Faiz…ada yang nyari nih,” teriak kawanku tersebut.

Sial, kenapa aku tidak titip pesan tadi, supaya kalau ada orang dari JT datang, jangan diberitahu dimana aku berada. Aku pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan menjemur pakaianku. Tap…tap…tap…, terdengar suara kaki yang sedang menaiki tangga ke loteng. Lemas seluruh badanku. Mereka betul-betul keras kepala. Sampai ke lotengpun aku dikejarnya.

“Nah, ini dia si Faiz, yuk kita pergi keluar,” ajak temanku itu.

“Aduh maaf ya. Aku lagi sibuk hari ini,” jawabku dengan memelas.

“Mana bisa seperti itu Faiz, kamukan sudah janji, jadinya harus ditepati,” sergahnya lagi.

Aduh, akhirnya aku tidak bisa mengelak dari mereka. Terpaksalah aku ikut serta dengan mereka, entah kemana mereka akan membawaku. Aku menenangkan dalam hati. Cuma tiga hari saja, tidak lama-lama. Lagipula aku sudah mempunyai rencana lain. Aku cuma ikut mereka satu hari saja. Setelah itu aku cabut pulang.

Pengalaman Lainnya

Begitulah pertemuanku dengan Jemaah Tabligh kali pertama. Pertemuan yang tidak dapat kulupakan dan menimbulkan trauma yang dalam. Sampai hari ini aku paling tidak mau ikut dengan kegiatan JT, walaupun mereka berulang kali datang ke rumah. Bukannya anti dengan kegiatan mereka. Cuma cara mereka berdakwah tidak begitu berkenan dengan aku. Kebanyakan mereka yang keluar berdakwah tidak memiliki ilmu yang cukup dan metoda berdakwah. Metoda berdakwah mereka hanya satu arah saja dan cenderung menimbulkan perasaan bersalah dari orang yang didakwahi. Bahan ceramah yang selalu mereka koar-koarkan selalu itu-itu saja. Sangat membosankan. Mereka juga banyak mengambil hadist-hadist palsu tanpa mereka sadari.

Itu baru dari segi metoda berdakwah. Dari segi berpakaian merekapun aku tidak terlalu suka. Kesannya kumuh dan kurang terawat. Kenapa orang Muslim harus menampilkan kesan kumuh tersebut? Apakah supaya tampil zuhud, tidak cinta dunia?

Pernah pada saat aku bertamu hari raya ke rumah kawan, datang seorang JT ke rumah tersebut. JT itu dibawa oleh adik si empunya rumah. Ketika aku melihatnya, aku mengeluh dalam hati, wah bakalan rusak suasana hari raya nih. Ternyata sekali lagi betul juga dugaanku. Pembicaraan dimulai dengan ngobrol basa-basi.

“Kerje kat mana,” tanya si JT itu.

“Kerja di company X,” jawabku tidak berapa antusias.

“Oh kerja sama perusahaan kafir ke,” tambah dia lagi.

Aku tersentak mendengar komentar terakhirnya. Kurang ajar kata aku dalam hati. Tapi si JT cuek saja, dan mulai dengan bayannya yaitu ceramah singkat selama beberapa menit. Dia tidak peduli kalau aku lagi bertamu dan berbicara dengan tuan rumah. Nyerocos lah dia panjang lebar. Aku dan tuan rumah tidak memperdulikan dia. Kami ngobrol saja sendiri. Eh ternyata si JT itu sangat tebal muka. Bukannya menghentikan ceramahnya, malah makin dipanjangkan ceramahnya. Betul-betul tidak ada ilmu untuk berdakwah. Dengan cara seperti itu, bukannya orang tertarik mendengar nasihatnya, tapi malah menjadi sebal.

Terkadang aku heran dengan JT ini. Mereka bisa meninggalkan keluarganya selama berbulan-bulan. Siapa yang mendidik anak-anaknya. Apakah semuanya ditanggung oleh istrinya? Keutamaan berdakwah adalah kepada keluarganya terlebih dahulu. Untuk apa memperbaiki masyarakat luar, kalau keluarga sendiri hancur.