Kalau pergi ke KL, maka berhati-hatilah ketika menaiki taxi di sana. Bukan karena taxi itu akan merampok atau menculik anda, tapi lebih kepada masalah pembayaran.

Tidak seperti taxi di Jakarta (jangan dibandingkan dengan kota lain seperti Medan ya…), yang selalu memakai meter dan bisa memilih taxi yang bagus seperti taxi Presiden, maka kebanyakan taksi di KL masih berdasarkan tawar-menawar harga. Padahal kerajaan Malaysia sudah menetapkan peraturan agar mereka menggunakan meter.

Kalau harga yang ditawarkan tidak terlalu mahal, kita masih boleh terima. Tapi kebanyakan supir taxi menetapkan harga sampai 3 kali lipat dari harga meter.

“Pakcik ke Sungai Wang berape?” tanya saya ketika baru turun dari Pudu Raya.

“15 ringgit encik,” jawabnya lagi.

“Hah mahal benar, 5 ringgit boleh,” tanya saya lagi.

“Tak bolehlah, you ambek taxi meterpun, bayar lebih mahal lagi,” katanya lagi.

Kalau sudah begitu habis ceritalah. Lebih baik menunggu taxi bermeter walaupun lama, daripada bayar 3 kali lipat. Supir-supir taxi itu menyangka kita tidak tahu harga taxi di KL ini. Mereka dengan seenaknya menipu. Tak lama setelah itu, saya mendapatkan taxi lain yang menggunakan meter dengan pembayaran 3 kali lebih murah ketika sampai di tujuan.

Kejadian tersebut terjadi di pusat kota Kuala Lumpur. Lebih parah lagi kalau tujuan kita ke luar KL. Harga yang seharusnya adalah 20 ringgit misalnya, bisa mereka tancap dengan 40 ringgit. Alasannya kalau balik ke KL lagi, penumpangnya tidak ada. Jadi secara tidak langsung penumpangnya disuruh bayar ongkos pulang-pergi. Ada cara seperti itu di Indonesia?

Kebanyakan yang suka menaikkan harga seenaknya adalah supir taxi Melayu. Yang Cina atau India sangat jarang, tapi ada juga. Mereka lebih suka memakai meter.

Selain masalah harga, supir taxi Melayu rata-rata tidak sopan. Kalau ada barang berat, tidak mau dibantu masuk ke dalam bagasi mobil. Supir taxi Cina dan India agak lebih baik. Entah kenapa.

Segitu dulu tipsnya kalau mau jalan-jalan ke KL.