Ngomong-ngomong pengalaman mengajar, aku pernah juga jadi dosen teknik Elektro di salah satu universitas swasta ternama di KL. Mudahlah jadi dosen, kataku dalam hati. Tinggal masuk kelas dan mengajar saja. Ini presepsi kebanyakan orang terutama mereka yang bekerja di industri.

Pertama kali mengajar, aku dapat jatah mengajar Rangkaian Listrik 1. Mudahlah. Toh dulunya aku pernah mengikuti mata kuliah ini. Tinggal ikuti saja gaya mengajar dosenku yang dulu. Kebetulan aku cocok dengan gaya mengajar dosenku yang dulu itu. Cuma sekarang ini aku harus mempersiapkan bahan-bahan untuk mengajar, seperti transparasi. Lumayan repot juga, karena harus memindai (betul nggak katanya), gambar-gambar dan rumus-rumus yang ada di buku teks.

Hari pertama mengajar aku agak berdebar-debar sehingga mengeluarkan keringat dingin. Bagaimana rasanya mengajar dengan menggunakan bahasa Inggris di depan mahasiswa yang terdiri dari kaum Melayu, Cina dan India? Tapi segera kutepis ketakutan itu.

Jadi segera saja aku mengajar dengan menggunakan transparansi. Tidak terasa waktu satu jam mengajar hampir habis. Aku bertanya kepada para mahasiswa untuk terakhir kalinya apakah ada pertanyaan atau tidak. Kulihat para mahasiswa pada manggut-mangut saja. Ehm, sepertinya mereka sudah mengerti pikirku. Lalu aku keluar dengan tenang.

Keesokan harinya apu dipanggil sama dekan. Ada apa ya? Apa ada keperluan administrasi? Ternyata dekan memanggilku karena mahasiswa di kelasku mengeluh karena tidak mengerti apa yang kuajarkan. Kurang asem, kataku dalam hati. Kenapa harus ngadu ke dekan? Kan masih ada ketua jurusan?

Sebelum meninggalkan ruang dekan, pak dekan sempat memberikan peringatan kepadaku, kalau masih ada pengaduan dari mahasiswa tentang metode mengajarku, bisa jadi kontrakku akan segera dihentikan.

Aku keluar dengan perasaan marah kepada pada mahasiswa pengadu itu. Apa aku perlu membalas ulah mereka nantinya ya? Ternyata mengajar tidak semudah yang aku bayangkan. Terutama kalau periuk nasi menjadi taruhannya.