Anak suka makan kari? Apa yang perlu diherankan? Ya perlu heran kalau anak tersebut baru berumur 15 bulan. Itulah yang terjadi dengan anak lelaki aku yang paling kecil, Dani.

Ketika baru mulai makan makanan pejal, anakku itu tidak ada masalah dengan selera makannya. Apapun yang dikasih, langsung ditelannya. Mungkin karena masih kecil ya? Jadi suka tidak suka, tetap saja harus ditelan. Tidak boleh protes…he…he…he

Seiring dengan meningkatnya umur, maka makin meningkatlah kecerdasannya. Banggalah kalau anak makin cerdas. Sudah bisa panggil ayah dan bunda dengan jelas. “Wah nih anak mungkin cepat bisa membaca nantinya,” gumamku. Sayangnya kecerdasannya mulai digunakan untuk memilih makanan yang disukainya. Kalau dulunya dengan makanan yang sama, bisa sepuluh suap sempat masuk ke mulutnya, sekarang ini baru empat suap, sudah terkatup rapat mulutnya. Kalau terlanjur masuk, dimuntahinnya lagi, sambil berlalu dengan cueknya.

Berbagai macam cara dicoba oleh istri saya. Mungkin dia sudah bosan dengan rasa nasi yang kurang bumbu. Akhirnya kita coba dengan membuat bubur kanji. Bubur Kanji ini sebenarnya bubur nasi yang dicampur dengan udang, daging, sayur-sayuran dan rempah-rempah khas Aceh. Rasanya memang keras atau “spicy” kata orang bule. Biasanya dibuat selama bulan puasa untuk penambah selera ketika berbuka puasa atau bersahur.

Pada awalnya anakku makan dengan lahap, tapi setelah beberapa hari menjadi bosan. Dasar anak-anak, cepat kali bosan mereka dengan makanan. Bagaimana kalau kita masak spagheti atau lasagna, tanya istriku. Mungkin selera anakku, selera orang bule😉 Setelah istriku bersusah payah membuatnya, ternyata anakku tidak ada darah bulenya. Dengan senang hati dia menolak makanan tersebut, paling cuma sedikit yang dicicipinya. Kalau begini terus, bisa-bisa kami dimarahi lagi sama dokter anak kami karena dianggap mengabaikan kesehatan anak sehingga si anak kelihatan kekurangan gizi.

Bukan apa-apa, sebelumnya si dokter telah memarahi istri saya, karena anak lelaki yang pertama kelihatan ceking. Bukan salah kami, aku membela diri. Anak-anakku yang perempuan kelihatan sehat-sehat saja. Soalnya mereka selalu menghabiskan makanan yang diberikan. Beda dengan anak lelaki pertamaku, Nabil, yang sering menyisakan makanan.

Kami sering membeli kari ayam, sapi atau kambing di kota tempat kami tinggal sekarang ini. Soalnya kota ini memang terkenal dengan restoran Kandar yang menyuguhkan berbagai macam kari. Karinya tidak sama dengan kari Indonesia. Bahkan jika dibandingkan dengan kari Aceh yang sudah dianggap lumayan berempah untuk ukuran Indonesia, masih jauh lebih keras kari restoran Kandar. Tapi herannya, kami sekeluarga sangat suka dengan kari-kari tersebut. Rasanya begitu eksotis.