“Ayah, Nabil mau nonton Transformer dengan ayah,” kata anak laki-laki saya yang pertama. “Tak bolehlah, itu filem untuk orang besar, bukan untuk anak-anak, Nabil nonton Ice Age 3 sama bunda saja ya,” jawab saya. Akhirnya dia setuju nonton Ice Age 3 di salah satu bioskop di kota kami.

Walaupun filem Transformer memang sangat menarik bagi anak-anak, karena banyak robotnya, tapi berdasarkan filem Transformer I, saya bisa menduga Transformer II itu seperti apa. Yang pasti tidak bakalan cocok ditonton oleh anak-anak, walaupun ada ditulis kalau untuk anak-anak di bawah 13 tahun perlu bimbingan orangtuanya ketika menonton (PG13).

Akhirnya saya sendiri yang pergi ke bioskop (pawagam dalam bahasa Malaysia) menonton Tranformer. Untungnya sudah beli tiket kemarin, dan dapat memilih kursi belakang. Kalau tidak bakalan duduk di depan layar langsung, soalnya banyak kali penontonnya. Sudah pernah duduk di depan layar menonton filem aksi, mata dan leher jadi sakit.

“Wah banyak benar anak-anak hari ini ya?” gumam saya dalam hati. “Mungkin mereka mau menonton filem Ice Age 3”.

Ternyata dugaan saya tidak sepenuhnya benar. Sebagian mereka malah masuk ke bioskop nomor 7 yang menayangkan Transformer. Wajah-wajah mereka kelihatan ceria karena sebentar lagi mereka akan menjumpai tokoh-tokoh robot kesayangan mereka seperti Optimus Prime, pemimpin robot di bumi yang berjuang melawan Deception, robot yang hendak menghancurkan bumi.

Seperti biasa, sebelum filem dimulai, iklan-iklan akan ditayangkan terlebih dahulu. Saya mulai memperhatikan dalam remang-remang cahaya, melihat bagaimana reaksi anak-anak kecil yang ditemani orangtuanya menonton Transformer. Bukan apa-apa, iklan-iklan yang ditayangkan itu lebih cocok untuk konsumsi orang dewasa.

Adegan filem Transformer dibuka dengan penampilan seoarang cewek yang menjadi pacarnya si anak muda. Cewek ini dengan memakai celana pendek dan baju yang nampak pusat sedang membersihkan sepeda motor besarnya. Sudut kamera mengambil gambar ketika si cewek sedang duduk di motor sambil menonjolkan pantatnya. Ya Allah, bagaimana nasib anak-anak yang menonton filem ini. Apa orangtuanya akan menutup mata anaknya, karena filem ini menyarankan bimbingan orangtua untuk anak di bawah 13 tahun?

Itu bukan satu-satunya adegan panas yang disaksikan oleh anak-anak itu. Ada lagi adegan, robot deception yang menyamar menjadi perempuan cantik sedang menggoda si anak muda di tempat tidur dengan baju seksinya, dalam rangka mendapatkan informasi dari otak anak muda itu. Dan banyak adegan-adegan lainnya yang tidak pantas ditonton sama anak-anak.

Memang pertukaran dari mobil, truk besar, atau traktor menjadi robot yang mampu berperang memang sangat mengasikkan pada anak-anak. Efek filemnya sangat bagus dan lebih halus. Tapi ya itulah, filem ini bukan untuk anak-anak. Sayangnya kebanyakan anak-anak yang menonton itu berasal dari keluarga Melayu. Sepertinya itu bukan terjadi di Malaysia saja. Berdasarkan komentar-komentar di FB, saya menebak hal itu terjadi di Indonesia juga. Mereka memberi komentar di FB seperti “Sekeluarga sedang menunggu antrian tiket Transformer” atau “Aku nonton Transformer dengan anak-anakku”, dsb nya. Sangat menyedihkan. Tidak sempatkah mereka memeriksa batas umur atau mereka tidak peduli sama sekali? Kalau saya yang jadi lembaga sensor, filem itu akan saya batasan umur 18 tahun ke atas, bukan PG13 (Parental Guide untuk 13 tahun).