“Di, you nak pindah keje kat MaxCircuit (nama perusahaan samaran) ke,” tanya kawan saya dengan dialek melayu pasaran yang khas,  bermaksud “Di, kamu mau pindah kerja ke MaxCircuit kah?”.

“Iya betul, ada masalah ke,” tanya saya lagi.

“Bukan apa Di, di MaxCircuit itu banyak orang Cina, you boleh tahan duduk dengan orang Cina?,” jelas kawanku itu.

“Soalnya aku juga pernah kerja di MaxCircuit selama dua tahun, lepas tu aku join Momis (nama samaran dari sebuah perusahaan elektronik di Malaysia), karena aku tak berapa selesa (nyaman) dengan banyaknya orang Cina di sana,” tambahnya lagi.

“Tak mengapa. Aku pun dah sering berhadapan dengan mahasiswa Cina di universiti tempat aku mengajar sekarang,” aku menjelaskan kepada dia lagi.

Ya itu adalah percakapan aku dengan kawanku sekitar tiga tahun lalu, ketika aku sedang mengadakan kolaburasi dengan Momis selama setahun. Aku sudah menjadi akrab dengan team kerjaku dari Momis, termasuk dengan manajernya. Sayangnya kontrak kerjaku dengan sebuah universitas swasta pada saat itu tidak diperpanjang lag dengan alasan mereka sudah cukup memiliki pensyarah (dosen) yang bertitle master. Mereka memerlukan pensyarah yang bertitel PhD.

Apa boleh buat. Target aku pindah ke Malaysia sebenarnya dapat mengajar sekaligus mengerjakan part-time Phd di universitas tersebut. Pada saat interview, mereka menjanjikan aku boleh mengerjakan part-time PhD tanpa bayar. Sayang seribu sayang, janji hanya tinggal janji. Mereka mengingkari janjinya setelah adanya pergantian dekan. Lebih parah lagi aku tidak memiliki bukti hitam di atas putih yang menyebutkan janji-janji mereka selama interview dulu. Sebuah pengalaman yang sangat berharga. Pengalaman berharga, jangan mudah tertipu dengan janji-janji ketika interview.

Sebenarnya aku juga sudah melamar ke Momis dan sudah di interview sama manajer dan kawan-kawanku satu team itu. Bisa dibayangkan kalau yang interview teman-teman sendiri, jadinya santai saja. Dalam pikiranku, kemungkinan besar aku bakalan segera bisa bekerja di perusahaan ini.

Sayangnya terjadi pergantian pimpinan di perusahaan yang separuh milik negara itu. Jadi keputusan diterima atau tidaknya akau bekerja menjadi terlunta-lunta. Sedangkan pada saat yang bersamaan, MaxCircuit sudah berulang kali mendesakku untuk segera menerima tawaran kerjanya.

“Ardi, saya dengar kamu mau kerja di MaxCircuit Penang,” tanya manajer saya di Momis. “Saya dulunya bekerja di Penang juga, tapi saya tidak betah dan tidak suka suasana di sana,” tambahnya lagi.

Aduh, sudah dua orang yang mengatakan bahwa bekerja di Penang tidak seindah yang dibayangkan. Bikin nyali menciut saja. Alasan paling utama adalah karena terlalu banyak Cina di sana. Tapi aku tiada pilihan lagi. Lagipula aku agak percaya diri bahwa tidak bakalan banyak  masalah dengan orang Cina di sana. Toh aku sudah terbiasa mengajar mahasiswa Cina di universitas tempat aku bekerja itu.

Akhirnya aku terpaksa juga menerima tawaran kerja di MaxCircuit Penang, daripada nanti beresiko menganggur gara-gara menunggu tawaran kerja dari Momis yang tidak kunjung datang.

Tahun Pertama Di Penang

Aroma Hong Kong atau Singapore sangat menyengat, ketika aku menginjakkan kakiku di hari pertama di MaxCircuit. Dimana-mana yang kudengar adalah percakapan dalam bahasa Hokien atau kantonis. Bahasa Melayu? Bisa dihitung dengan jari. Itupun mereka bicara dengan pelan. Bukan apa-apa. Walaupun orang Cina di sini tidak lancar berbahasa Melayu, tapi mereka mengerti bahasa Melayu. Jadi terpaksalah orang Melayu bicara bahasa Melayu pelan-pelan, supaya tidak diketahui isi pembicaraannya.

Tahun pertama di tempat kerjaku, aku tidak berapa merasakan keberadaan mayoritas kaum Cina menjadi suatu masalah. Soalnya masih banyak kawan-kawan melayu yang setara denganku. Yang kumaksud dengan setara adalah yang sudah menikah atau memiliki anak. Dengan yang belum nikah memang tidak nyambung. Selain itu, ada seorang pegwai baru dari Amerika yang gabung dengan MaxCircuit Penang. Dia keturunan Palestina yang lahir di Amerika. Brother ini memang aktif dalam mengumpulan pekerja-pekerja muslim untuk belajar agama dan sholat berjemaah di surau. Pada saat bulan puasa dia berinisiatif untuk mengadakan kuliah tafsir surah al-Fatihah dan belajar bahasa Arab. Hal ini membuat kami sesama melayu dan Islam merasa senasib dan sepenanggungan yaitu sebagai bangsa minoritas di tempat kerja. Minoritas dari segi agamadan suku bangsa. Kesamaan inilah yang menyebabkan kami sering makan siang bersama, hingga main paintball dan bulutangkis bersama.

Tahun Kedua Di Penang

Sayang kemesraan itu hanya sekejap saja. Brother ini mulai bosan dengan lingkungan kerja kami yang mayoritas Cina. Sebenarnya dia mengharapkan lingkungan kerja yang banyak Melayu, karena tujuan dia berhijrah dari Amerika ke Malaysia adalah untuk lebih dekat dengan komunitas orang Islam. Tapi yang dia dapatkan ternyata kebalikannya. Akhirnya setelah setahun, brother ini pindah kerja ke KL. Tidak berapa lama, seorang kawan makan siang kami yang lain ikut pindah kerja ke singapore. Lebih parah lagi, teman-teman Melayu yang banyak bekerja di bagian IC layout dipindahkan ke gedung lain yang cukup jauh dari gedung sekarang. Jadilah aku tertinggal sendiri di gedung ini. Tidak ada lagi kawan makan siang, tidak ada lagi kawan untuk belajar agama dan tidak ada lagi kawan untuk bermain painball.

Mungkin ada yang bertanya kenapa tidak gabung saja dengan pekerja-pekerja Cina itu. Sudah pernah aku coba, tapi tidak berhasil. Biasanya mereka kalau makan siang di kantin, mereka akan duduk sesama mereka. Terkadang beradasarkan partai politik mereka. Kedatangan kita sebenarnya tidak membuat nyaman mereka, karena terpaksa berbahasa Inggris. Kalau sudah bosan, mereka akhirnya beralih ke bahasa Cina dengan kawan-kawan mereka. Akhirnya jadilah aku sebagai kambing congek. Ternyata hal ini menimpa kawan-kawan melayu yang sudah senior. Mereka akhirnya menyerah untuk bersosialilsasi dengan pekerja-pekerja Cina itu. Jadi bukan aku yang kuper ya.

“Di, kamu tau tidak kalau sebagian pekerja-pekerja Cina di sini enggan bergabung dengan kita,” kata Raju (nama samaran), salah seorang kawan peranakan India dan Cina.

“Darimana kamu tahu, masak sampai separah itu,” aku bertanya dengan keheranan.

“Aku dikasih tahu sama kawan Cina yang akrab denganku. Dia pernah diperingatkan oleh kawan Cina nya yang lain supaya tidak berteman denganku, dengan alasan aku bukan orang Cina asli,” jelasnya lagi.

Ternyata rasis itu ada dimana-mana. Kupikir dulunya rasis hanya ada di negara kulit putih saja. Ternyata sesama orang Asia pun rasis. Terutama yang berbeda warna kulit. Orang Cina rasis dengan orang India dan orang Melayu karena merasa kulit mereka lebih putih bersih dibandingkan keduanya. Orang Melayu rasis kepada orang Bangladesh karena merasa orang Bangladesh lebih hitam kulitnya, ditambah lagi mereka lebih miskin.

Inilah hasil pendidikan di Malysia yang terpisah-pisah, dimana masing-masing etnis punya sekolah mereka sendiri dengan memakai bahasa ibunya. Bisa dibayangkan kalau di Indonesia yang terdiri dari puluhan etnis memiliki sekolah dengan memakai bahasa daerahnya sendiri. Mereka memiliki buku-buku teks dalam bahasa daerahnya sendiri. Mereka memiliki media elektronik dan suratkabar dalam bahasanya sendiri. Mungkinkah akan terjadi persatuan?

Hari-hari makin membosankan ditempat kerjaku sekarang ini. Di mana-mana yang terlihat adalah orang-orang bermata sipit yang berbicara bahasa Hokien ataupun Kantonis. Di lift kita dikurung oleh gerombolan mereka yang sibuk bercakap dengan bahasa yang tidak kumengerti. Terkadang aku mau berteriak untuk mendamprat mereka. Mungkin inilah yang disebut dengan stress. Di kantin kantor pun dipenuhi dengan mereka. Bahkan lagu-lagu instrumentalia yang diputar oleh pengurus kantin pun berirama China. Betul-betul deh… Sekedar info, perusahaan tempat kerja aku sekarang murni milik Amerika, tidak ada sepeserpun dimiliki oleh Cina Malaysia.

Kegundahan aku ini, aku kongsikan juga dengan rekan-rekan expatriat lainnya. Ternyata mereka memiliki masalah yang sama. Mereka hanya menunggu waktu saja untuk pindah ke tempat lain. Bekas manajerku adalah orang Pakistan. Dia cuma bertahan setahun saja. Setelah itu dia kembali bekerja di Amerika. Dua orang ekspatriat yang berasal dari Pakistan pun telah pindah ke Irlandia dan Inggris. Mungkin aku akan mengikuti jejak mereka juga. Insya Allah.

Tahun Ketiga di Penang

Aku merasa kerja selama tiga tahun ditempat kerjaku sekarang, seolah-olah seperti telah bekerja selama 6 tahun. Kebosanan dan kelelahan memang terlihat di mukaku. Ini akibatnya mempengaruhi kesehatanku juga. Aku terkena kegemukan dan tahap awal tekanan darah tinggi (borderline). Kumis dan rambut putih pun mulai bertambah. Tiada cara lain kecuali dengan diet, perbanyak olah-raga, dan rajin jalan-jalan dengan keluarga. Mungkin akhir tahun keempat aku akan pindah ke tempat lain, kalau ada umur panjang.