“Thank you Nabil, nobody say thank you to you,” suara istri saya sedikit keras ketika kami hendak keluar menuju tempat parkit Queensbay Mal. Saya yang sedang membayar tiket parkir di mesin pembayar parkir, sedikit terkejut mendengarnya. Ada apa ya?

Istri saya kemudian menceritakan kejadian tersebut dalam perjalanan pulang ke rumah. Dia merasa kesal dengan tingkah laku sekelompok mahasiswi Melayu berjilbab gaul yang nyelonong masuk, tanpa mengucapkan terima kasih kepada anak saya Nabil yang bersusah payah membuka pintu besar dan berat dan menahannya dengan tangannya yang kurus. Dia melakukan itu supaya istri saya bisa mendorong kereta dorong bayi dan belanja kami keluar dari tempat pembayaran parkir di tingkat 6.

Kalaupun tidak mau menahan pintu yang sedang dibuka oleh seorang anak kecil berumur 7 tahun, sangat susahkah mengeluarkan sebuah ucapan terima kasih? Begitu berat dan mahalkah sebuah ucapan terima kasih? Saya sangat kecewa kalau ada orang Islam yang bersikap seperti itu, terutama kalau mereka memakai jilbab.

Ini bukan kejadian pertama yang kami temui. Sebelumnya, anak perempuan kami yang berumur 7 tahun, Nabila pernah mendapat perlakuan yang sama. Pada hari itu kami pergi ke dokter umum. Nabila mendahului kami menuju klinik doktor yang berbentu toko itu. Ketika sampai di depan pintu masuk tersebut, Nabila membuka dan menahan pintu kaca, supaya kami bisa masuk dengan leluasa. Biasanya saya akan ikut menahan pintu juga.

Tapi sebelum kami mencapai pintu itu, seorang perempuan Cina jangkung yang sexy dengan rok mininya, melenggang kangkung melewati pintu yang sedang ditahan oleh Nabila tersebut, tanpa berusaha menahan pintu, atau ucapan terima kasih, atau malah sekedar sebuah senyuman. Padahal dengan senyuman itu mungkin kemarahan kami bisa hilang.

Kejadian yang hampir sama juga menimpa Nabil ketika saya hendak masuk ke sebuah toko komputer. Nabil segera berlari mendahului saya untuk membuka pintu toko. Entah kenapa mereka senang sekali membuka pintu untuk kami. Lagi-lagi seorang lelaki Melayu keluar dengan santainya tanpa mengindahkan Nabil sama sekali. Aku hanya bisa melotot dengan marah. Mungkin mereka mengira anak-anak adalah orang yang lemah, sehingga mereka menggunakan anak-anak untuk kepentingan mereka selagi ada kesempatan. Jadi teringat filem Slumdog Millonaire, dimana seorang anak miskin sengaja dibutakan kedua matanya oleh mafia pengemis untuk dipaksa mengemis di India. Sudah menonton filemnya belum?

Itulah sikap sebagian besar orang-orang di negara ini dan mungkin di negara kita sendiri yang mayoritas Muslim. Mereka hanya mementingkan diri sendiri saja, tidak peduli dengan orang lain. Inilah yang disebut dengan “ultra kiasu” dalam bahasa Cina. Sikap mementingkan diri sendiri itu tercermin dalam aktifitas harian lainnya, seperti ketika sedang mengemudikan mobil. Orang yang hanya mementingkan diri sendiri, akan mengemudikan mobil secara semborono yang bisa menyebabkan kemacetan, kecelakaan bahkan penghilangan nyawa orang lain.

Kalau anak-anak dibesarkan dalam lingkungan seperti itu, tidakkah mereka menjadi seperti itu ketika besar nanti? Kalau anak-anak dibesarkan dalam lingkungan yang sering membuang sampah sembarangan, tidakkah mereka ikut membuang sampah sembarangan nantinya? Kita mungkin berdalih, bahwa kita bisa mendidik anak-anak kita. Tapi kita harus ingat bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang besar terhadap anak kita.

Jadi apa penyelesaiannya? Rubahlah kondisi lingkungan itu semampu kita, terutama kalau memiliki kekuasaan di pemerintahan. Kalau tidak mampu merubah masyarakat secara langsung, berilah contoh kepada anak-anak kita ketika sedang berjalan diluar. Tunjukkanlah kepada mereka mana perbuatan yang benar mana yang salah. Anak-anak biasanya mudah mengingat kalau diberi contoh yang nyata.