“Ada yang bertanya?” tanya si pengajar ketika sedang menerangkan konsep “No Flow” untuk menyelesaikan “combinational loop” atau “latch loop” ketika hendak membangun sebuah “hardware emulation model”.

“Erm…saya tidak mengerti apa yang menyebabkan “loops” tersebut,” tanya saya.

Sekilas saya melihat senyuman sinis rekan sekerja yang duduk disamping saya. Senyuman sinis itu seolah-oleh berkata, “Masak masalah sepele itu saja kamu tidak tahu, kamu kan sudah senior di team ini”.

Kurang asem benar anak muda ini, kata saya di dalam hati. Mentang-mentang dia masih muda dengan otak yang masih segar, dia dengan mudah menertawakan orang lain yang lebih lambat dari dia.

“Aku kan sudah mulai berumur. Lagipula, banyak hal yang harus kupikirkan selain masalah kerja,” belaku dalam hati.

Karena hati sudah terlanjur panas dengan senyuman sinis si anak muda tersebut, aku menjelaskan secara panjang lebar di depan kelas kenapa aku bertanya hal tersebut. Tentu saja dengan nada sedikit tinggi, untuk menunjukkan kemarahanku. Bagaimana tidak marah. Sudah berulang kali aku mendapat perlakuan seperti itu di tempat kerjaku sekarang ini.

Mereka dengan mudah menertawakan orang lain karena bertanya dengan pertanyaan yang kelihatan mudah di mata mereka. Mereka menganggap betapa bodohnya orang tersebut, karena tidak malu bertanya dengan pertanyaan remeh tersebut.

Hal ini tidak pernah saya jumpai ketika bekerja di negara barat. Mereka tidak pernah menertawakan atau tersenyum sinis walaupun pertanyaan anda terdengar konyol sekalipun. Mereka dengan sabar menanti anda selesai bicara walaupun bahasa Inggris anda kacau balau. Mereka sangat menghargai orang yang mau bertanya.

“Saya suka duduk di depan dan bertanya pertanyaan sepele,” kata salah seorang kosultan dari Texas ketika sedang memberikan training di perusahaan kami.

“Kenapa?” kami bertanya lagi.

“Karena pertanyaan saya itu biasanya mewakili mereka-mereka yang malu untuk bertanya. Saya tidak peduli kalau orang lain menganggap saya bodoh,” jelasnya lagi.

Ya, malu bertanya inilah yang menjadi penyakit pelajar-pelajar di Indonesia atau Malysia. Penyebabnya mudah saja. Mereka selalu ditertawakan ketika bertanya dengan pertanyaan yang sepele. Sehingga lama-kelamaan tidak ada yang berani bertanya lagi. Inilah yang membentuk budaya kita sekarang ini. Sehingga kalau ada yang melawan arus dengan banyak bertanya kepada guru, gurunya malah menjadi marah. Pelajar itu dianggap mempermainkan gurunya atau sok tahu. Lama kelamaan anak itu tidak banyak bertanya lagi.