“Anak-anak…cepetlah pakai sepatu, nanti jalan keburu macet,” teriakku pada anak-anakku hampir setiap pagi.

Dasar anak-anak, masih sempat mereka bercanda sebelum pergi sekolah. Akhirnya aku memutuskan berlomba dengan mereka siapa duluan sampai ke depan lift. Siapa yang kalah harus makan sayur nanti sore. Sangking takutnya disuruh makan sayur, mereka segera lari ke lift yang berjarak sekitar 20 meter dari pintu apartemen kami.

Ting…Tong…

Pintu lift segera terbuka. Di dalamnya ada seorang ibu Cina yang sedang menggendong seorang anak perempuan. Setelah diam beberapa saat aku memutuskan menyapa anak ibu tersebut. Soalnya si anak asyik melihat ke arahku. Entah apa yang ada dimukaku.

“What’s your name?” tanyaku pada anak itu.

Sengaja aku bertanya dalam bahasa Inggris, soalnya kebanyakan orang Cina di Penang tidak fasih bahasa Melayunya.

“Tiffany,” jawab ibunya.

“She’s cute. How old is she?” basa-basi saya masih bersambung.

“She’s 10-months old,” jawabnya lagi.

“Oh…I’ve got mine as well. He’s 15-months old,” tambah saya lagi.

Si Ibu kelihatan terkejut mendengar saya sudah memiliki anak sampai empat. Soalnya yang bersama saya di lift saja sudah tiga orang. Mungkin dia kaget, karena melihat tampang saya yang kelihatan terlalu muda untuk memiliki banyak anak🙂

Pintu lift segera membuka sebelum kami sempat menyambung pembicaraan lagi.

“See you…bye…bye”

Begitulah suasana di dalam lift di apartemen kami. Kebanyakan orang-orang pada berdiam diri ketika berada di dalam lift. Padahal mereka saling bertetangga. Tidak ada yang menyapa satu sama lain. Kadang-kadang mereka sampai harus melihat langit-langit atau menghitung angka digital yang menunjukkan sudah tingkat berapa. Terkadang berpura-pura memeriksa kunci rumah supaya tidak kelihatan grogi, atau memeriksa isi tasnya dan banyak tingkah lainnya.

Paling apes kalau berada paling belakang, karena harus melihat berbagai jenis kepala dan rambut orang-orang yang berdiri di depan.

“Ih rambutnya kok di cat warna itu ya?”

“Bapak di depan itu, kepalanya agak botak”

“Bagus juga ya rambut cewek di depan itu, seperti iklan model shampo”

Mungkin begitulah isi pikiran mereka ketika berdiri paling belakang.

Karena tidak tahan dengan suasa saling mendiamkan inilah, aku berusaha menyapa orangtua yang membawa anak-anak mereka. Selain untuk menghilangkan kebosanan juga ingin mendidik anak-anak supaya mereka tidak malu-malu di dalam lift. Biasanya orangtua itu menjawab dengan ramah kalau anak-anaknya disapa. Iyalah siapa yang tidak senang kalau anaknya jadi pusat perhatian.

Namun herannya kenapa aku yang harus selalu mulai menyapa ya? Jarang sekali mereka mau menyapa duluan. Kalau inisiatif dari kita terus, lama-lama capek juga. Paling enak adalah saling memberi dan menerima.

Uhh…susah juga ya bersikap ikhlas atau berbuat sesuatu tanpa pamrih.