Anda pernah menerima “negative feedback”? Kalau pernah, anda pasti tahu bagaimana rasanya menerima “feedback” yang seperti itu.

Ketika saya mengajar dulu, satu bulan sebelum semester berakhir, pihak jurusan akan mengedarkan angket kepada mahasiswa sebagai masukan bagi dosen-dosen mereka. Masukan dari mahasiswa ini menjadi salah satu komponen untuk menilai kinerja si dosen.

Pihak jurusan menyarankan agar para dosen membaca “feedback” dari mahaiswanya sebelum mengembalikan angket tersebut kepada jurusan. Saya dengan penuh ingin tahu segera membaca kritikan dari mahasiswa-mahasiswa saya dengan harapan dapat meningkatkan kualitas mengajar saya nantinya.

Tapi tindakan saya itu betul-betul salah langkah. Membaca kritikan dari seratusan mahasiswa memang membuat jantung terasa hendak copot. Entah apa saja yang mereka tulis. Ada yang benar, tapi kebanyakan isinya pada ngawur menurut penilaian saya. Bahkan serasa seperti memfitnah saja. Bahkan kritikan dari mahasiswa yang kelihatan baik di dalam kelas, sama ganasnya dengan mahasiswa yang malas.

Dua minggu saya uring-uringan dan tidak enak tidur gara-gara “feedback” mahasiswa yang sangar itu. Bagaimana tidak? “Feedback” yang terlalu jelek, mengakibatkan kenaikan gaji atau kesempatan mendapatkan bonus lebih menjadi tersendat. Siapa bilang kerja sebagai dosen itu mudah.

Pelajaran yang saya peroleh adalah, kalau mau mengkritik orang lain jangan sadis-sadis amat. Karena diri sendiripun belum tentu tabah dengan jenis kritikan seperti itu. Memang mudah mengkritik orang lain, tapi belum tentu mudah menerima kritikan dari orang lain.