“Hari ini tidak ada plastik belanja,” kata penjaga kaunter di sebuah supermarket.

“Haaa? Tak ada plastik?” hampir copot jantung aku mendengarnya.

“Bagaimana harus membawa belanjaan sebanyak ini…masak harus diangkat satu persatu?” aku melihat belanjaanku dengan ngeri, soalnya ada susu cair dua liter, minyak goreng dua liter, beras lima kilo. Belum lagi barang-barang kecil lainnya.

Oh ya. Baru aku ingat bahwa dari hari Senin sampai hari Rabu, semua supermarket di kota kami tidak menyediakan plastik untuk membungkus barang belanjaan. Sebagai gantinya, pembeli harus membawa tas belanjaannya sendiri, atau beli tas “recycle” yang tersedia di dalam supermarket itu. Katanya sih untuk mengurangi limbah plastik di kota tersebut.

Bukannya aku tidak mendukung program mengurangi sampah plastik ini, tapi biasanya aku tidak pernah terpikir membawa tas belanjaan dari rumah. Pulang kantor langsung cabut ke supermarket sambil membawa daftar belanja dari istri. Membawa tas belanja dari rumah, tidak termasuk dalam daftar tersebut.

“Kok disana ada plastik?” aku menunjuk ke pembeli di kaunter sebelah.

“Oh, kalau bapak mau plastik, beli 20 sen,” jawab si penjaga kounter.

“Bilang lah dari tadi, bikin saya jantungan saja,” aku menjawab dengan lega.

Belanja di supermarket memang salah satu perkara yang paling aku tidak suka. Aku sering kebingungan sendiri mencari barang-barang di dalamnya. Bolak-balik dari satu lorong ke lorong yang lain. Belum lagi ngantri di depan kaunter pembayaran. Baik belanja di pasar tradisional saja.

Masalah lain juga muncul ketika tiba di rumah. Kami tinggal di tingkat tujuh sebuah kondominium. Dulunya kami ada pembantu, jadi sebelum sampai di rumah pembantu siap sedia dengan kereta dorong untuk memasukkan barang belanjaan kami. Sekarang pembantu tidak ada lagi. Terpaksalah kami mengangkat barang-barang sendiri ke atas. Beratlah.

“Ayah Nabil…beli kereta dorong untuk Dani yang baru lah,” pinta istriku. “Yang lama ini terlalu besar, nggak kuat angkat ke mobil terus menerus.”

“Betul memang berat, tapi masalahanya yang lama mau di bawa kemana?” tanya aku lagi.

“Di sini tidak ada “garage sale” untuk menjual barang bekas”.

“Kalau gitu kita gunakan saja kereta dorong bayi ini untuk mengangkut barang belanjaan,” usul istriku lagi. “Jadi tidak berapa menyesallah, kalau harus mengeluarkan tenaga sedikit untuk mengangkatnya ke dalam bagasi mobil.”

Akhirnya, sim salabim, inilah kereta dorong bayi yang selalu digunakan untuk mengangkut barang belanjaan ke dalam rumah. Kalau lagi kosong, Dani lah yang naik. Ada yang mau beli?