Teringat cerita seorang teman yang berziarah ke tempat orang meninggal bersama ibunya. Ketika turun dari mobilpun, ibunya sudah melancarkan protes.

“Kenapa banyak sekali karangan bunga di depan rumah orang meninggal?” tanya ibu kawanku itu. “Padahal kan lebih baik kasih uang kepada keluarga yang ditinggalkan itu, malah lebih bermanfaat”.

Sepertinya sekarang menjadi suatu trend kalau orang kenamaan atau pejabat-pejabat tinggi meninggal, maka berduyun-duyun orang pada mengirimkan karangan bunga. Jalan-jalan di depan rumah mereka dipenuhi dengan karangan-karangan bunga yang dengan jelas mencantumkan alamat pengirimnya. Entah apa maksudnya. Padahal harga karangan bunga bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Memang panenlah orang yang membuat karangan bunga kalau ada pejabat yang meninggal.

Bayangkan kalau karangan bunga itu digantikan dengan uang yang disalurkan kepada yayasan anak yatim atau semacamnya, entah berapa banyak dana yang terkumpul. Saya salut dengan keluarga mantan presiden Indonesia, bapak Habibie, yang mengimbau orang-orang agar jangan mengirimkan karangan bunga.

Pada suatu hari ada orangtua seorang pekerja yang berkebangsaan Cina meninggal dunia. Kami-kami yang orang Melayu sibuk mengumpulkan uang untuk diberikan kepada keluarga si mati. Bukankah begitu yang selalu kami lakukan ketika ada orang Melayu yang meninggal? Ternyata tindakan kami itu sempat dilarang sama kawan-kawan Cina lainnya. Menurut mereka, memberikan uang kepada keluarga si mati bisa di kategorikan sebagai penghinaan. Walaupun kami bingung dimana letak penghinaannya, kami menurut saja saran kawan kami tersebut.

Begitu juga dengan kasus di atas. Pihak tuan rumah telah melarang belasungkawa dalam bentuk karangan bunga. Harusnya pihak pemberi menghormati permintaan tuan rumah tersebut.

Republika Onlina – Puluhan karangan bunga dari berbagai keluarga dan pejabat masih berdatangan memenuhi rumah duka keluarga mantan Presiden RI ke Tiga, BJ.Habibie. Padahal, sebelumnya pihak keluarga sudah mengimbau agar para pelayat tidak mengungkapkan bela sungkawa dengan karangan bunga. “Dengan tidak mengurangi rasa hormat, kami mohon agar ucapan bela sungkawa tidak berupa karangan bunga namun dimohon untuk menyumbang donasi ke yayasan,” ungkap juru bicara keluarga, Ahmad Watik Pratiknya.