Ketika saya berkunjung ke Banda Aceh akhir tahun 2009, saya melihat kota Banda Aceh banyak berubah setelah dihantam oleh tsunami sekitar 4 tahun yang lalu. Salah satu perubahannya adalah terlalu banyak sepeda motor di jalan, sehingga membuat jalan kelihatan semberawut. Bagaimana tidak semberawut, para pengendara sepeda motor membawa motor dengan cara yang berbahaya, tidak peduli dengan keselamatan orang lain. Apalagi banyak di antaranya yang belum layak mendapatkan surat izin mengemudi (anak-anak), tapi sudah mengebut di jalan layaknya pengendara sepeda motor veteran.

Tidak heran kalau bagian gawat darurat rumah sakit di sana dipenuhi dengan korban tabrakan sepeda motor. Bahkan guru mengaji anak-anak selama di sanapun, terpaksa masuk rumah sakit akibat berlanggar dengan seorang ibu yang membawa sepeda motor dengan arah yang berlawanan. Lucunya, walaupun si ibu itu jelas-jelas salah, malah si ibu itu yang memarahi si guru ngaji anak-anak kami itu.
Kenapa terjadi peledakan jumlah sepeda motor di Banda ya? Saya curiga salah satu alasannya adalah karena mudahnya membeli sepeda motor baru karena fasilitas kredit jor-joran yang ditawarkan oleh para dealer dan sub-dealer. Berita dari Serambi Indonesia membenarkan kecurigaan saya tersebut:

Pasar sepeda motor bekas sepertinya bakal semakin lesu. Ekspansi pasar yang dilakukan oleh dealer maupun sub dealer sepeda motor ditambah lagi dengan kemudahan memperoleh kredit, kian mempersempit segmen pasar motor bekas.Bayangkan, saat ini hanya dengan uang panjar Rp 750.000 sampai Rp 1,2 juta saja, masyarakat sudah bisa memperoleh kredit sepeda motor baru. Masyarakat juga diberi bonus dengan berbagai hadiah menarik untuk setiap kredit sepeda motor tersebut.

Sebelum krisis ekonomi terjadi, masyarakat memiliki cukup uang untuk membeli sepeda motor dengan cara lunas. Selain itu para dealer tidak menyediakan fasilitas kredit pada saat itu. Jadi mereka yang membeli sepeda motor baru adalah mereka yang betul-betul punya uang. Sedangkan bagi mereka yang sedikit kempis kantongnya, salah satu cara memiliki sepeda motor adalah dengan membeli sepeda motor bekas. Akibatnya harga jual sepeda motor bekas pada jaman sebelum krisis ekonomi cukup bagus.

Ketika krisis ekonomi menghantam Indonesia, harga sepeda motor tiba-tiba menjadi sangat mahal, akibat penurunan nilai mata uang Rupiah yang bombastis. Akibatnya masyarakat tidak lagi mampu membeli sepeda motor yang baru. Sebagai gantinya, masyarakat terpaksa melirik sepeda motor buatan Cina yang lebih murah, tapi dengan kualitas yang dipertanyakan.

Jadi untuk mengakali lesunya penjualan akibat daya beli masyarakat yang rendah, para dealer yang menjual sepeda motor buatan Jepang menawarkan kredit kepada masyarakat. Tentu saja masyarakat menyambut antusias tawaran kredit yang menggiurkan ini. Bagaimana tidak, mereka yang tidak punya banyak uangpun mampu membeli sepeda motor yang canggih dengan cara berhutang. Masalah mampu melunasi cicilan di kemudian hari, itu masalah lain. Walaupun sepeda motor terebut akhirnya ditarik karena tidak mampu membayar cicilan, yang penting mereka sudah sempat bergaya dengan sepeda motor baru yang canggih.

Walaupun ini kelihatannya menguntungkan masyarakat berekonomi lemah, sebenarnya ini menimbulkan kebiasaan baru yang negatif seperti:

1. Masyarakat jadi terbiasa berhutang untuk membeli barang yang sebetulnya mereka tidak mampu melunasinya dalam jangka panjang. Berhutang itu sebenarnya diperlukan kalau digunakan untuk berdagang atau mengusahakan sebuah bisnis. Tapi kalau untuk membeli barang-barang konsumtif, sebenarnya berutang itu membuat kepala jadi sakit.

2. Tidak peka terhadap riba yang ada pada kredit yang diberikan. Kalau dulu jumlah masyarakat yang terlibat dengan perkreditan sangat sedikit, sekarang karena kredit motor yang ditawarkan dengan mudah-mudah, masyarakat yang terlibat dengan kredit jadi bertambah banyak. Padahal kredit yang ditawarkan oleh dealer sepeda motor ini kebanyakan kredit yang tidak Islami alias banyak tersangkut dengan riba. Jadi kalau sebelumnya hanya masyarakat yang menyimpanuang di bank saja yang terlibat riba, sekarang masyarakat tidak terlibat dengan bank pun sudah dililit dengan riba.

3. Jalan jadi dipenuhi dengan sepeda motor yang dibawa secara ugal-ugalan oleh pemiliknya sehingga banyak menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas.

4. Bisnis labi-labi (angkutan kota) jadi lesu. Habis semua orang pada punya sepeda motor. Padahal jaman dulu, bisnis labi-labi termasuk bisnis yang menguntungkan. Para pemilik labi-labi berlomba-lomba memasang “sound system” di kenderaannya untuk menarik calon penumpang. Macam-macam lagu mereka mainkan, mulai dari lagu dangdut sampai lagu “heavy metal”🙂

Jadi bagi mereka yang berkunjung ke Banda, jangan buru-buru menganggap orang Banda kaya semua ya. Soalnya sepeda motor yang berseliweran di jalan itu, statusnya masih hutangan.