Sore itu kami memutuskan untuk singgah di sebuah supermarket guna mengambil uang di ATM yang ada di dalamnya.

“Ada kelihatan tempat parkir kosong di sana?” tanyaku kepada istriku sambil menunjuk ke sebuah kawasan parkir khusus untuk mereka yang membawa anak-anak kecil ke supermarket.

“Kelihatannya ada mobil keluar di sana, buruan supaya tidak diambil sama orang lain,” jawab istriku. Sementara anak-anakku seperti biasa membuat keramaian di dalam mobil yang sempit.

Memang pada sore Minggu itu tempat parkir pada penuh semua. Jadi semua mobil yang baru masuk pada jelalatan matanya mencari mobil yang hendak keluar dari tempat parkir. Kalau ketemu, mereka akan menunggu dengan sabar hingga si empunya kendaraan selesai memasukkan semua barang belanjaannya ke bagasi belakang.

Dengan sigap aku menuju kawasan parkir khusus itu yang merupakan jalan searah. Kami berada pada arah yang betul dan kami tiba tepat pada saat mobil sebelumnya sedang keluar.

“Eh kenapa ada mobil menuju ke arah kita?” tanyaku keheranan. “Inikan jalan satu arah.”

Tiba-tiba mobil itu tepat berhenti di depan tempat parkir yang baru ditinggalin oleh mobil sebelumnya.

“Loh, kenapa pula mobil tu, kita kan jadi tidak bisa masuk,” kataku kesal.

Aku lihat pengendara mobil mewah itu seorang laki-laki separuh baya. Tunggu beberapa saat, mobil itu tidak kunjung bergerak. Akhirnya aku menekan klakson sambil membuka jendela menyuruh mobil itu untuk maju supaya kami bisa masuk ke tempat parkir.

Eh ternyata si bapak ikut membuka jendela sambil berkata tanpa merasa bersalah, “Apa kamu nggak bisa maju ya, kan tidak ada halangan di depan.”

“Saya mau masuk ketempat parkir ini, bukan mau maju ke depan. Bapak menghalangi saya untuk masuk ke tempat parkir,” jawab saya sambil menahan marah. “Lagipula bapak melawan arah jalan.”

“Kamu yang salah,” jawab si bapak ketus. “Itu parkir untuk orang cacat.”

Saya kaget, “Pak ini tempat parkir keluarga yang membawa anak-anak kecil, bukan untuk orang cacat.”

Bapak itu masih ngotot tidak mau maju, malah pakai acara melototin kita lagi. Padahal dia yang salah. Tapi akhirnya setelah melihat dibelakang mobil kami banyak mobil yang tertahan karena kami belum masuk ke tempat parkir gara-gara dihalang sama bapak tersebut, bapak itu pun terpaksa jalan kembali.

Begitulah cerita hari ini. Gara-gara mau cari tempat parkir secara mudah, semua rambu-rambu jalan diserobot. Tidak peduli kalau hal itu akan merugikan orang lain juga. Yang penting diriku ini yang senang. Itulah pemikiran orang yang mau menang sendiri saja.