“Bos, saya mau minta cuti selama empat minggu,” pintaku kepada manajerku di kantor.

Manajer saya hampir copot matanya karena kaget mendengar permintaan saya itu.

“Untuk apa cuti kerja lama sekali, saya saja cuma menghabiskan cuti kerja tidak sampai dua minggu untuk tahun ini,” bos saya menjawab dengan panjang lebar.

“Tapi bos kan lain. Bos tinggal di negeri sendiri. Tiap hari raya atau libur kejepit, bos pasti sempat pulang kampung. Sedangkan saya yang tinggal di negeri seberang, harus menunggu setahun untuk pulang. Mahal diongkos pesawat, kalau pulang terlalu sering,” kilahku lagi.

Itu contoh pertama ketika seseorang suka menyamakan keadaan dirinya dengan orang lain. Sehingga orang itu menjadi heran kenapa orang lain tidak bisa menjadi seperti dia. Padahal kondisi setiap orang itu berbeda-beda.

Simak cerita yang hampir sama di bawah ini.

Anto baru saja bergabung dengan sebuah perusahaan. Dia sudah memiliki pengalaman kerja beberapa tahun. Walaupun bidang kerjanya sama, kali ini produk yang harus didisain berbeda. Untuk mempercepat proses pembelajaran Anto berusaha bertanya kepada yang lebih berpengalaman. Tentu saja setelah dia mempelajari sendiri terlebih dahulu. Tapi jawaban apa yang didapatnya:

“Kamu tau tidak, aku dulu belajar topik ini sendiri dengan susah payah. Tidak ada yang menolongku. Kamu juga harus melewati proses belajar yang aku lalui dulu. Jangan mau mudahnya saja,” jawab si pakar disain dari team yang sama.

Kalau diperhatikan sekilas memang ada benarnya jawaban si pakar disain ini. Tapi kalau dipikir lebih mendalam, sebenarnya tidaklah adil untuk menyamakan situasi Anto sekarang dengan situasi si pakar disain dulunya. Mungkin saja dulunya tidak ada orang berpengalaman yang bisa ditanyai atau proyek yang dulu memiliki waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan proyek yang si Anto sedang terlibat di dalamnya.

Sebuah kasus yang mirip menimpa salah seorang temanku.

Pada suatu hari dekan tempat kami mengajar marah-marah kepada beberapa orang dari kami. Beliau marah karena sampai sekarang kami belum menelurkan tulisan-tulisan ilmiah ke beberapa “conferences”. Beliau membandingkan dengan dirinya yang langsung mengirim beberapa tulisan ilmiah.

Sangat tidak adil penyamaan seperti itu karena kondisi kami dan dia berbeda. Dia telah mendapatkan PhD ketika pertama bergabung dengan universitas tempat dia bekerja sekarang. Sedangkan kami cuma memiliki gelar master. Dia cuma perlu mengajar paling banyak lima jam dalam seminggu, sedangkan kami harus mengajar hampir tiga kali lipat darinya, hanya karena kami “ekspatriat” alias dosen asing dari luar negeri. Dan banyak perbedaan-perbedaan lainnya.

Teman saya menyudahi cerita itu dengan muka kesal.

Saya juga pernah melakukan kesalahan fatal yaitu dengan menyamaratakan tahap intelektual mahasiswa di tempat saya mengajar dulunya. Saya pikir kalau mahasiswa yang duduk di depan mampu menangkap penjelasan saya dengan cepat, mahasiswa lainnya juga seharusnya sama. Apalagi ketika ditanya ada pertanyaan, tidak satupun mahasiswa yang mengangkat tangan. Akibatnya saya mendapat panggilan dari dekan karena menerima pengaduan dari mahasiswa yang tidak mengerti kuliah saya.

Itulah pengalaman berharga bagi saya yaitu jangan pernah menyamaratakan keadaan seseorang. Setiap orang memiliki kecepatan yang berbeda untuk mencapai tujuannya. Seorang anak yang lambat matematiknya ketika SD, belum tentu si anak itu bodoh. Mungkin dia perlu cara lain untuk belajar matematik atau dia memiliki kelebihan di bidang lain.