“Akhyar, kamu tahu cara mencapai kantor pencatatan kelahiran?” tanyaku.

“Sebentar, biar aku cari dengan GPS-ku,” jawabnya.

Aku jadi penasaran. Aku memang sudah sering melihat GPS pada saat pameran komputer di kotaku. Tapi aku lebih sering mengabaikan tawaran brosur berlangganan GPS di depan kounter mereka. Bukan apa-apa, harganya memang sangat mahal, berkisar RM1000 per unit. Sudah menjadi kebiasaanku, kalau aku tidak mampu membeli suatu barang, aku akan berlalu mengabaikannya. Untuk apa menghabiskan waktu menganguminya, tapi akhirnya tidak terbeli juga.

Kali ini aku penasaran dengan tingkah Akhyar memencet-mencet HP nya untuk mengaktifkan GPS. Baru kali ini aku melihat sebuah HP yang dilengkapi dengan GPS.

“Apa tadi nama kantornya?” tanyanya lagi.

“Kantor pencatatan kelahiran,” tegasku lagi.

Kemudian dia sibuk menerangkan bagaimana cara mencari lokasi kantor itu dengan menggunakan GPS. Aku melihat dia mengetik kantor yang aku cari di search menu, dan tak lama kemudian muncul daftar kantor pencatatan kelahiran di lokasi yang berbeda.

“Sebaiknya kamu pergi ke kantor yang ini, karena mereka melayani legalisir juga,” saran dia lagi. “Kamu tinggal menentukan tujuan kamu, dan GPS ini akan menunjukkan jalan mana yang harus kamu ambil,” dia melanjutkan penjelasannya.

Aku makin menunjukkan ketertarikan. Canggih juga kataku dalam hati, sambil membandingkan dengan HP Motorola kuno di dalam kantong celanaku yang hanya bisa mengirim SMS saja. Aku berprinsip kalau hanya digunakan untuk mengirimkan sms, untuk apa membeli HP yang canggih. Tidak heran HP-ku kalah canggih dengan HP yang digunakan oleh para TKI.

“Berapa harga HP-mu?” tanyaku penasaran.

“Sekitar RM1000,” jawabnya lagi.

Wah mahal sekali kataku. Aku tidak mau mengeluarkan uang kontan hanya untuk membeli HP sekitar RM1000. Aku bukannya pecandu gadget yang tidak segan-segan mengeluarkan sebagian uang gajinya untuk membeli HP terbaru, MP3 player terbaru, LCD TV, dsb. Masih banyak keperluan rumah tangga yang lebih penting dari pada membeli HP.

Tawaran Kartu Kredit

Ternyata kalau ada niat, ada saja jalan yang muncul. Aku memang berniat membeli sebuah HP yang ada GPS, tapi aku tidak mau membeli dengan uang kontan. Rupanya doaku terkabul juga.

Setiap bulan aku menerima tagihan kartu kredit. Aku berlangganan kartu kredit dari sebuah Bank Islam di Malaysia. Biasanya aku menggunakan kartu kredit untuk membeli tiket pesawat AirAsia atau FireFly. Soalnya kalau beli ke Travel Agent harganya bisa dua atau tiga kali lipat.

Kali ini bersamaan dengan tagihan kartu kredit, ada sebuah brosur yang disertakan juga. Mataku langsung berbinar ketika melihat halaman depan brosur itu. Ternyata brosur berisikan tawaran untuk membeli sebuah HP dengan mencicil selama setahun. Aku segera membaca dengan cepat isi brosur itu. Pilihanku langsung jatuh ke Nokia E71. HP ini menawarkan fasilitas yang sangat banyak dan cocok untuk orang kantoran seperti aku. E71 menyediakan fasilitas koneksi WIFI, GPS, Kamera 3.3MPixel, sinkronisasi dengan jadwal di Outlook, dan tidak lupa keyboard QWERTY. Aku memang sebal kalau mengetik sms dengan menggunakan keyboard HP biasa.

Dibandingkan dengan kartu kredit lainnya, tawaran membeli barang secara menyicil dengan menggunakan kartu kredit Bank Islam tidak terlalu banyak. Aku mencoba mendapatkan kartu kredit Islam dari sebuah bank yang lain, tapi aku gagal mendapatkannya karena aku orang asing. Sebagai orang asing, aku harus meletakkan deposit sebesar RM5000 sampai RM10000 untuk mendapatkan sebuah kartu kredit di Malaysia.

Peta Lama

Sejujurnya, GPS-HP ku, tidak begitu bermanfaat di Penang. Aku dengan mudah menemukan jalan kalau hendak menuju ke Gurney Plaza di bagian selatan yang berjarak sekitar 25 km dari rumahku. Lain halnya kalau tujuanku adalah Georgetown – ibukota Pulau Pinang yang berjarak sekitar 17 km dari rumahku. Aku tidak terlalu suka Georgetown. Ia adalah kota tua dengan toko-toko tuanya yang tidak terawat. Ini diperparah lagi dengan jalannya yang kecil-kecil dan kebanyakan satu arah. Memang sungguh malang kalau sempat tersesat di kota Georgetown. Untungnya aku tidak terlalu sering pergi ke sana. Paling-paling kalau mau singgah ke restoran Aceh, baru aku membulatkan diri untuk pergi ke kota.

“Ardi, sudah dicoba GPS nya?” tanya kawanku lagi.

“Belum dapat kesempatan ke KL. Nanti kalau ke sana, baru aku coba GPS HP ku yang canggih ini,” aku menjawab sambilan berharap dalam hati bahwa niatku akan kesampaian tidak lama lagi.

Akhirnya kesempatan menjajal GPS HP baruku kesampaian juga. Aku dan keluarga harus pergi ke KL untuk mengurus surat-surat di kantor imigrasi. Istriku sudah menghubungi kawannya bahwa kami berencana menginap di rumahnya semalam.

Nah disinilah kerepotan bermula. Menggunakan fasilitas search untuk mencari alamat kawanku tidak semudah yang dikira. Berkali-kali aku gagal mendapatkan alamat tersebut. Ini membuat aku terpaksa menggunakan peta KL untuk mencari alamatnya dan kemudian mencocokkan dengan peta di dalam GPS ku. Perlu waktu hampir setengah jam hingga aku mendapatkan lokasinya.

Pelajaran yang kudapat disini adalah dapatkan koordinat tempat yang dituju dengan menggunakan Google Map, kemudian konversikan koordinat itu ke koordinat yang dikenal oleh GPS Garmin. Oh ya, aku lupa menyebutkan bahwa perangkat lunak yang kugunakan untuk mendukung perangkat internal GPS adalah Garmin. Ada beberapa software lainnya seperti Magellan, TomTom, bahkan Motorola. Selain itu aku juga harus mendownload peta KL ke dalam HP ku. Tidak terlalu besar, cuma sekitar 12 Mbyte untuk peta Malaysia.

Setelah mendapatkan lokasi rumah kawanku dan GPS ku menunjukkan cara menuju ke sana, aku tinggal santai saja mengemudikan mobil sambil bercanda dengan anak-anakku. Sesekali aku melirik HP ku untuk memeriksa apakah aku masih berada di jalan yang tepat.

“Eh bang, itu ada persimpangan untuk keluar tol, tapi GPSnya tidak menunjukkan adanya jalan tersebut,” istriku tiba-tiba berkata.

“Masak iya sih,” jawabku sambil memeriksa GPS sekali lagi.

“Bang, persimpangannya makin dekat, mau lurus saja atau ke kiri,” tanya istriku dengan nada mendesak.

Aku jadi panik, mau lurus atau ke kiri. Antara ragu-ragu aku memutuskan untuk mengikuti jalan yang lurus. Kecepatan mobil kami pada saat itu sekitar 80 km/jam. Ternyata aku memang salah jalan. Tapi aku tidak begitu khawatir, karena si GPS segera menghitung ulang untuk mencari jalan alternatif.

“Loh, kok GPS nya tidak mampu menghitung ulang, malah kita makin jauh dari jalur yang ditunjukkan oleh si GPS,” kataku keheranan.

Tak lama kemudian aku baru menyadari apa yang terjadi. Ternyata jalan tol yang kulalui sekarang adalah jalan tol baru, jadi tidak terekam dalam peta GPS ku. Alamat muter-muter lagi nih, kataka dalam hati.

Jadi pelajaran kedua adalah rajin-rajinlah meng “update” dengan peta yang terbaru.

Dua GPS

Ini pengalamanku menggunakan GPS di Amerika Serikat. Terlebih dahulu aku harus mendownload peta Amerika ke dalam memory HP-ku yang hanya berkapasitas 2Gbyte. Lumayan juga besarnya yaitu sekitar 1 GByte. Apa aku perlu menukar ke memory yang berkapasitas 8Gbyte ya?

Berbeda dengan di Malaysia yang tidak terlalu mudah menemukan sebuah lokasi berdasarkan alamat lokasi tersebut, di Amerika yang terjadi adalah sebaliknya. Di sana alamat-alamat jalan tersusun dengan rapi. Alhasil, setiap alamat yang diketik di GPS dengan mudah ditemukan.

Tentu saja selain mampu mencari lokasi berdasarkan alamat yang dituju, peralatan GPS-ku mampu mencari tempat-tempat populer dengan mudah, misalnya saja lokasi pusat perbelanjaan, rumah sakit, kantor pos, bahkan mesjid juga.

Cuma yang jadi masalah dengan GPS yang disediakan oleh HP adalah koneksinya yang cenderung lambat jika berada diluar negeri. Ini karena fasilitas asisted network sengaja aku matikan, supaya tidak terkena charge dari operator telepon seluler setempat. Mahal loh bayarnya kalau roaming di luar negeri. Akibatnya kadang-kadang perlu waktu 5 menit untuk menunggu hubungan dengan satelit. Untuk mencegah hal tersebut, aku menyewa mobil yang memiliki GPS di dalamnya. Biasanya koneksi ke satelit lebih cepat.

Nah pada suatu hari aku memutuskan untuk mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan elektronik yang cukup besar di Austin Texas. Biasanya aku menggunakan GPS HP dan GPS mobil agar aku menjadi lebih yakin. Betulkah begitu?

Lokasi pusat perbelanjaan yang ditunjukkan oleh GPS HP ku berbeda dengan yang ditunjukkan oleh GPS di dalam mobil. Mana nih yang patut aku ikuti, gumamku dalam hati. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti GPS HP saja. Mungkin rute jalannya saja yang berbeda, tapi tujuan akhir sama.

Setelah membawa mobil beberapa saat, GPS mobil sewa mulai mengeluarkan peringatan bahwa aku mengambil jalan yang salah. Bagaimana tidak, ternyata GPS HP menunjukkan arah Selatan, sedangkan GPS mobil menunjukkan rute Utara. Sangking kesalnya dengan GPS mobil, aku mengecilkan volume suaranya sehingga tidak mengganggu konsentrasiku.

Aku melewati tempat-tempat yang tidak kukenal dan berhenti di lokasi yang ditunjukkan oleh GPS HP. Loh, mana “shopping center” nya? Sejauh mataku memandang yang ada hanyalah gedung-gedung pertokoan. Dengan kesal aku memeriksa kembali alamat lokasi di HP ku. Ya Allah, ternyata alamatnya berbeda dengan GPS mobil walaupun nama tokonya sama. Jadi aku telah mengikuti GPS yang salah.

Pelajaran ketiga yang kupetik adalah jangan coba-coba menggunakan dua GPS pada saat bersamaan kalau anda tidak mau kebingungan atau tersesat.